Kamu, ya, kamu, yang sedang membaca ini. Sebentar lagi saya akan bercerita kepada kamu. Karena, dengan siapa lagi saya harus berkeluh kalau tidak sama kamu. Jangan marah ya, kalau saya paksa kamu mengikuti alur yang nanti saya berikan. Pandanglah saya sebagai temanmu, itu saja. Kamu pernah punya teman kan?, dan tahu kan hal apa yang paling dibutuhkan seorang teman?, tepat jawabanmu, Eksistensi atau pengakuan keberadaan dari mu. Tanpa itu, tali pertemanan tak akan ada. Dan, sebagai teman juga, saya tidak memaksa kok. Hanya…, minta kamu mendengarkan dan menganggap saya ada.
Saya, saat ini masih duduk di ruang tunggu. Menghisap sebatang rokok dan menyilangkan kaki. Mengepulkan asap yang saya sedot dan menggoyang-goyangkan telapak kaki yang saya silangkan. Kalau kamu bertanya pakai apa saya pada telapak kaki saya, baiklah saya jawab, saya pakai sandal jepit warna hijau. Kamu tahu sandal ini saya dapat darimana?, salah, bukan beli di warung. Hi..hi..hi.., saya malu. Ya sudahlah saya mengaku. Saya mengambil sandal ini saat orang-orang lagi shalat jum’at. Saat saya lewat, kok ada yang menarik perhatian saya di deretan sandal-sandal itu. Entah mengapa, sandal ini begitu menyita perhatian saya. Bersih, seperti baru. Tapi saya yakin, sandal ini baru disikat sama deterjen. Tapi jangan bilang-bilang ya. Kalau kamu bertemu dengan orang yang kehilangan sandal sehabis shalat jum’at, diam saja. Pura-pura tidak tahu saja. Atau…, jangan-jangan malah kamu yang punya sandal ini. Maaf, maaf. Lain kali jangan pakai sandal japit yang baru kamu cuci, pakai sandal yang agak kotor saja. Itu pesan saya.
Huh.., saya mengibas-ngibaskan kerah kemeja saya. Ruangan tunggu ini pengap. Ditambah lagi dengan asap rokok saya. Sepertinya oksigen di ruang ini kalah dengan karbon dioksida yang saya hasilkan. Padahal, di dinding depan saya ada larangan untuk tidak merokok. Namun begitu, saya tetap merokok. Karena, saya orang Indonesia. Karena juga, konon katanya, merokok dapat menghilangkan tekanan stress. Tapi, bisa menimbulkan tekanan darah tinggi dan serangan jantung serta gangguan kehamilan pada janin. Juga, konon katanya, dengan merokok berarti saya ikut sumbangsih sama perekonomian negara. Petani tembakau masih bisa menggarap lahannya, dan pekerja di pabrik rokok tidak di PHK. Tapi itu masih konon.
Pasti kamu bertanya, dengan siapa saya diruang tunggu ini, iya kan?. Benar, seperti tebakan yang terucap dalam hatimu, saya sendirian disini. Diruang tunggu pengap ini. Melamun dan depresi. Mengapa saya belum dipanggil-panggil juga?.
Untuk itu saya harus menunggu. Padahal sudah sejak tadi saya disini. Tapi saya harus menunggu. Dan kamu tahu?, hal yang paling dikhawatirkan oleh semua umat manusia termasuk kamu, ya tepat, adalah menunggu. Kalau saya boleh memilih, saya akan memilih mengkliping cerpen-cerpen yang ada di tukang kertas bekas ketimbang saya harus menunggu. Tapi saya tak punya pilihan lain. Karena menurut saya, menunggu memerlukan kekuatan yang luar biasa. Lebih besar daripada kekuatan yang diperlukan untuk menghukum pejabat-pejabat yang korup. Tapi kalau harus menunggu untuk menghukum pejabat-pejabat yang korup?, wah.., sungguh tak bisa dibayangkan, siapa yang punya kekuatan sedahsyat itu. saya mendingan memilih mati saja.
Di dinding depan saya, ada jendela. Jendela dari kaca yang bertirai. Sebenarnya kalau tirai itu tersingkap, saya bisa mengamati keadaan diluar sana. Tapi tirainya tertutup, dan saya merasa malas untuk membukanya. Dibawah jendela itu juga ada sederetan bangku seperti disisi depannya dimana saya sekarang duduk. Saya melihat koran-koran tercecer dibangku itu. Tapi, saya malas untuk meraihnya. Saya rasa beritanya, ya, tentang itu-itu juga. Nanti malah menambah parah kebosanan saya. Saya diam sajalah dan menunggu perkembangan. Wait for see saja. Saya ini kan wong cilik. Nrimo saja.
Kamu tahu, warna cat dinding-dinding di ruang ini?, biru muda?, bukan, tapi putih. Dan warna lantai keramik diruang ini juga putih. Warna bangku yang saya duduki juga putih. Hi..hi..hi..., celana dalam saya, putih juga. Jangan tertawa, gigimu kelihatan. Saya pesan, kalau kamu tertawa jangan sampai gigimu kelihatan. Saya takut, kalau-kalau kamu baru makan di warung masakan padang. Dan, ada pecahan cabai yang menempel di gigimu. Bayangkan, jika hal itu terjadi saat kamu mau berseranjang dengan istrimu, pasti gairah istrimu akan menurun. Gosok gigi ya, sebelum berseranjang.
Saya benar-benar kesepian diruang tunggu ini. Lama-lama saya tidak tahan juga. Tapi, orang sabar katanya disayang Tuhan. Dan saya ingin juga disayang Tuhan. Walaupun, sandal yang saya pakai adalah sandal yang saya curi ketika orangnya sedang menyembah Tuhan. Dan Tuhan acuh saja tuh, ketika sandal hambanya yang jelas-jelas sedang menyembahNya saya curi. Kamu jangan menyangka yang tidak-tidak ya. Tuhan itu penyayang umatNya. Kamu harus camkan itu baik-baik.
Kamu ingat kan jendela yang saya katakan tadi?, ya, jendela yang tirainya tersingkap tadi. Disampin jendela itu terdapat pajangan-pajangan gambar. Dari lukisan yang menggambarkan alam, poster-poster kesehatan, dan tanggalan.
Saya berdiri. Menggoyang-goyangkan pinggul saya yang mulai terasa pegal, lalu berjalan ke sisi depan saya itu, yang dindingnya ada gambar-gambarnya. Saya mendekati salah satu lukisan tentang alam pegunungan yang didominasi warna hijau. Menyedekapkan tangan, dan mulai mengamati. Lukisan yang indah. Saya yakin, pelukisnya adalah orang yang mendambakan kedamaian. Guratan-guratan cat nya sangat eksotis. Saya merasa damai memandangi lukisan itu. Aliran darah saya seperti berdesir-desir. Nyaman, dan tenang. Kalau kamu melihat lukisan ini seperti saat saya memandangi nya, kamu akan merasakan hal yang sama seperti saya. Saya yakin!. Karena kamu dan saya adalah sama-sama manusia. Dan, hal yang paling didambakan manusia pada hakikatnya adalah kedamaian, kenyamanan, dan ketenangan. Karena tanpa itu, saya atau kamu, pasti akan merasa gelisah. Saya mungkin kehilangan kata-kata bila disuruh mendefinisikan kegelisahan. Kamu bisa menjawabnya sendiri, dalam hatimu. Namun sekali lagi, lukisan itu begitu mengesankan. Siapa ya pelukisnya?, jangan-jangan kamu.
Sudah puas saya menikmati lukisan itu, saya menggeser langkah kesamping. Mencermati sebuah poster tentang bahaya HIV Aids. Warnanya dominasi merah dan hitam. Dan gambarnya adalah seseorang perempuan yang sedang meringkuk. Sebagian tubuhnya terselimuti kain hitam. Seperti kain latar pada pertunjukan teater. Mukanya tak kelihatan. Dibawahnya ada gambar tengkorak dan satu jarum suntik yang ujung jarumnya masih ada darahnya. Tiba-tiba saya merasa merinding. Saya membayangkan jika jarum itu menusuk pembuluh darah saya, dan tiba-tiba pembuluh saya robek. Kemudian darah mengucur dengan deras. Ah, rasanya tangan saya menggigil dan mendesir-desir. Dan dibawah poster itu ada kalimat-kalimat tentang bahaya HIV Aids, penggunaan jarum suntik, serta seks bebas. Pantas saja yang menjadi model di poster itu adalah wanita, bukannya pria. Dan untuk kamu, saya berpesan, gunakan kondom jika nggak tahan pengen ‘jajan’.
Saya membidikan mata ke sebuah pintu. Pintu yang dari tadi mungkin belum saya sebut-sebut. Padahal, pintu itu yang sebenarnya membuat saya menunggu. Karena jika saja pintu terbuka dari tadi, saya tidak akan mengajakmu bicara panjang lebar. Pintu itu terletak di ujung bangku yang saya duduki tadi. Pintu itu belum terbuka juga.
Akhirnya, eh belum, belum akhirnya, mungkin masih lama. Saya harap kamu belum bosan. Karena kalau kamu bosan, siapa yang akan mendengarkan cerita saya ini. Saya menggeser lagi langkah saya. Sekarang saya mengamati sebuah tanggalan. Pertama-tama saya seperti kamu juga, saya mengamati gambar yang ada di bagian atas tanggalan itu. Gambarnya seorang perempuan lagi. Tapi tidak berselimutkan kain latar seperti pada pertunjukkan teater pada poster disamping, perempuan itu hanya pakai bikini di sebuah pantai, Pasadena beach. Mudah-mudahan pikarnmu tidak ngeluyur kemana-mana seperti pikiranku saat ini. Kalau begitu, kamu sudah bisa menebak jenis kelaminku kan?. Sepertinya, wanita memang tidakdirkan jadi bahan eksploitasi yang paling yahut, mendatangkan uang. Beruntunglah kamu jadi kaum pria, He..he..he…
Saya lihat di tanggalan itu, sekarang sudah tahun 2006. Saya merasa sudah tua. Tapi jika saya mengingat-ingat anak-anak saya dirumah, rasanya saya harus memudakan diri lagi. Karena dengan begitu saya punya semangat untuk bekerja. Kamu tahu, pasti tidak. Anak-anak saya masih kecil-kecil. Saya punya empat anak. Bandel-bandel, tapi lucu. Yang paling besar masih duduk di bangku SMP kelas 1. yang paling kecil masih belajar merangkak. Saya takut, kalau-kalau saya tiba-tiba merasa tua dan pengen istirahat. Saya takut kalau anak-anak saya masa depannya suram. Saya tidak ingin anak-anak saya seperti saya. Karena itu, saya ingin giat bekerja dan saya selalu pasang target pada tahun 2010 atau 2015 nanti anak-anak saya sudah harus mandiri. Untuk itu mereka harus! Sekolah. Biar mereka terdidik. Kamu pasti merasakan kan?, kegundahan saya?. Kalau tidak, ya tak apa-apa lah.
Apakah kamu masih disitu?, masih mendengarkan saya diruang tunggu ini?. Saya harap, dan saya berharap, masih. Omongan saya panjang lebar ya?, kalau kamu ingin ngomong sekedar menyela atau memberi saya masukan, ngomong saja. Saya akan sangat senang jika kamu juga menyuarakan suaramu. Ini kan sudah jaman bebas, dan bicara apa saja kan sudah tidak ada yang melarang. Ngomong saja nggak usah ditahan. Baiklah, baiklah, mungkin kamu masih belum bisa bicara dengan saya. Kamu masih tertegun dan susah berkata-kata. Tak apa kok, wajar.
Huh.., pegal juga berdiri terus. Kakiku sepertinya minta istirahat. Saya bisa mendengarkan jeritannya. Kaki saya merintih-rintih. Ya, saya akan duduk. Saya melangkah mendekati bagku itu lagi. Sebelum saya sampai di bangku itu, pintu yang membuat saya menunggu, terbuka. Ha…!!, sepertinya saya ingit menjerit sejadi-jadinya. Tubuh saya mendesir-desir tak karuan. Senangnya bukan kepalang. Kamu juga pasti merasakan apa yang saya rasakan kan?!. Wah…, penungguan yang berusai, segar..!.
Seorang perempuan muda keluar buru-buru dari pintu itu. Dia menutup-nutupi wajahnya seperti malu-malu. Ah, yang seperti itu biasa bagi saya. Dokter kandungan yang ada didalam ruang yang pintunya tertutup tadi keluar. Saya melihat sarung tangan karetnya berlumuran darah. Dokter itu menyuruh saya masuk. Saya berpikir sejenak, pasti saya akan merasakan sakitnya menggugurkan kandungan untuk kedua kalinya. Tapi, demi anak-anak saya, saya harus melakukannya. Rasanya tersiksa jadi pekerja seks yang kebobolan.
Ok!, saya harus masuk. Saya berterima kasih sama kamu, karena telah merelakan telingamu mendengar keluh kesah saya diruang tunggu tadi. Lain kali kita bertemu lagi, dan jangan bosan ya. Dan, kamu pasti salah menebak jenis kelamin saya. he..he..he..
0 komentar:
Poskan Komentar