Selasa, 04 September 2007

Pada Batas Malam di Tengah Pararanggi

Pada Batas Malam di Tengah Pararanggi

Pada batas malam. Udara menembus sampai ke tulang. Daun-daun yang siang tadi jatuh mongering, pastilah basah tertimpa embun. Bias terdengar gesekan ranting-ranting yang bergesekan dari pepohonan pinus. Sementara nyanyian burung hantu menembus batas malam ini, menerawang kepekatan malam, memberi tanda antara batas ketakutan, dendam, dan kematian.

Cahaya bulan yang timbul tenggelam antara ranting-ranting pinus. Buolan yang juga muram. Jejak-jejak langkah yang sesekali menjadi derap. Serta hembusan napas yang tak beraturan dari degup jantung yang cepat. Laki-laki itu memegangi paha kirinya yang tertembus timah panas. Sudah sampai tengah hutan, sudah jauh, pikirnya. Rembulan tertutup lebatnya ranting-ranting pinus, pikirnya lagi. Dia merasa sudah tidak terlihat. Kepekatan malam membuatnya aman dari ancaman pengejaran. Dia menyandarkan tubuhnya disebuah pohon pinus. Mengusap peluh, menyeka darah yang melekat anatara jins dan pahanya. Membuka jaket kulit yang dikenakannya. Kemudian melepas kaos hitam yang ia pakai, dan membebatkannya ke lubang paha kiri yang terasa nyeri itu. Ia menjerit lirih seraya memejamkan mata menahan rasa sakit. Semoga darah tak terlalu banyak keluar, harapnya.

Sementara di kejauhan, rombongan obor yang tadi mengejarnya masih menyala-nyala. Seperti lilin di tengah-tengah layar hitam. Rombongan obor itu masih masih menuju ke arahnya. Sambil menyumpah serapahkan namanya. Namun rombongan obor itu kemudian berhenti sejenak, untuk kemudian berbalik arah. Pararanggi, dalam hatinya menegaskan.

Laki-laki itu mencoba berdiri. Merintih-rintih sambil memegangi paha kirinya. Mencari tempat yang agak tinggi. Dari tempat itu, terlihat wajah muram desanya. Dan dari tempat itu pula, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Apa?!, dia lari ke Pararanggi?!”

“Iya, pak. Aku tak bisa menemukannya, ia lari kedalam hutan..”

“Hutan Pararanggi.., hutan itu begitu jahanam. Bapak tak pernah membayangkan, akan bersentuhan dengan nama itu lagi. Dosa apalagi yang telah bapak lakukan nak…”

laki-laki tua itu menjatukan badannya ke kursi rotan. Zan coba menenangkan bapaknya yang sudah semakin rapuh itu. Karena yang ia takutkan adalah jantung bapaknya itu. Namun Sidhanula sama sekali tidak mengkhawatirkan jantungnya. Pikirannya melayang-layang. Terlebih pada keselamatan dua anak laki-lakinya itu, jantung hati yang sesungguhnya.

“Apakah sudah takdir bapak, untuk mengirim kalian ke Pararanggi..?”

“Sudah pak, nanti Zan akan mencarinya, bapak tak usah terlalu khawatir. Ruz pasti bisa menjaga diri…”

“Dari pemberontak..??, dari Pah saki..??”

Zan terdiam. Baginya, pertanyaan itu adalah penegasan dari satu kekhawatiran. Kekhawatiran yang sebentar lagi akan, tidak, pasti dating.

Sidhanula menatap langit-langit rumahnya. Bekas-bekas itu masih belum hilang. Seperti lukisan abadi yang akan terus tergambar. Bahkan kematian tak akan bisa menghapus bekas-bekas itu. Ia usap-usap rambutnya yang semakin memutih. Tangan orang tua itu menonjolkan urat-urat sehingga kulit tangannya semakin terlihat tipis. Ia ingat-ingat wajah si bungsu yang rasanya baru kemarin ia timang-timang bersama Nyah Salemboh istrinya. Dan bayangan pada hari itu akhirnya merangsek paksa ke dalam ingatannya. Memaksanya menahan derita.

Tiba-tiba serombongan tentara memasuki pekarangannya. Sidhanula masih menimang-nimang si bungsu yang sepuluh bulan kemarin terlahir dari rahim Nyah Salemboh. Sementara istrinya sedang memasak gulai kelinci di dapur. Diantara rombongan tentara itu terdapat juga Pah Saki. Matanya yang licik itu tersembul dari barisan belakang rombongan tentara.

“Kau Sidhanula.” Tanya salah satu tentara.

“Benar.” Jawab Sidhanula, sambil mendekap Ruz kecil yang masih tertawa-tawa sumringah di pelukan bapaknya. Mata Sidhanula beralih menatap Pah saki. Pah saki membuang pandang.

“Kau tahu apa akibatnya jika membantu pemberontak?!, sehingga selalu menggagalkan operasi kami?!”

“Apa maksud tuan…”

“Geledah rumahnya!” pekik tentara itu. Rombongan yang lain langsung merangsek mematuhi perintah itu. Pintu itu di dobrak dengan popor senjata.

“Apa-apaan ini!”, Sidhanula menghentikan mereka. Namun dua tentara langsung memegangi Sidhanula. Ruz kecil menangis kencang digendongannya. Sidhanula berontak. Satu tinju mendarat telak di wajahnya. Kemudian tamparan, tinju kedua, ketiga… dan tendangan dari sepatu bot itu tepat mengenai ulu hantinya. Hanya jeritan Nyah Salemboh dari dalam rumah, dan tangisan Ruz yang ia dengar. Dia tak sadarkan diri.

Zan yang saat itu pulang bermain, menangis kencang sambil membangunkan bapaknya yang berlumuran darah. Sementara Ruz kecil masih menangis di samping tubuh bapaknya. Dengan menahan sakit, Sidhanula berhasil sadarkan diri. Mencoba bangun, dan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia tersentak, lalu buru-buru masuk kedalam rumah.

“Bapak hanya melihat ibumu terkapar di atas meja, tanpa…”. Sidhanula tak kuasa menahan diri. Linang air mata membasahi wajah tirus tuanya.

“Mengapa bapak sampai bisa dituduh membantu pemberontak..?”

“Bapak kenal beberapa dari, yang dikatakan mereka pemberontak itu. Termasuk pamanmu. Namun bapak tak pernah ikut terlibat. Yang bapak tahu, sampai detik ini mereka masih di dalam Pararanggi. Melakukan perlawanan untuk hal yang diperjuangkannya…”

“Pah Saki…”

“Dia adalah laki-laki yang selalu gagal menarik hati ibumu…”. Mata Sidhanula kembali menatap langit-langit rumahnya. Serasa gambar-gambar itu begitu jelas dimatanya.

“Zaman sudah berubah pak.., mengapa kita tidak menuntut..?”, Zan memegang dua tangan bapaknya.

“Menuntut…?, luka seperti ini tak pernah bisa disembuhkan dengan tuntutan apapun. Lagi pula, siapa yang akan kau tuntut?. Biarlah kebenaran saja yang menuntut. Biarlah masa saja yang akan menunjukkan siapa yang harus dituntut..”

Dari luar, derap serombongan orang terdengar mendekat. Sepertinya kekhawatiran itu akan segera menjelma menjadi sebuah petaka. Zan mendekati jendela, dan mengintip rombongan siapa yang sedang mendekat itu. “Orang-orangnya Pah Saki dan beberapa aparat…”. Sidhanula hanya terduduk. Sesekali memejamkan mata, dan membaca doa-doa. “Ruz, dimanapun engkau, jaga dirimu baik-baik…”, bisik hati Sidhanula.

“Kau larilah yang jauh nak, tinggalkan kampung ini. Cari adikmu, dan tanyakan padanya, mengapa ia membunuh anak laki-lakinya Pah Saki…”

“Tidak!, saya..”

Pintu yang tak terkunci itu didobrak paksa oleh beberapa orang sambil mencari-cari Ruz. Pah Saki yang menggenggam parang, maju menghampiri Sidhanula. Zan tak mampu berbuat apa-apa. Sementara beberapa aparat yang ikut rombongan itu hanya berdiri di dekat pintu.

“Mana anak pemberontak itu, biar kutebas batang lehernya!”

“Kita serahkan saja pada hokum, apakah Ruz benar-benar membunuh atau…”

“Diam kau!, tahu apa kau tentang hukum bocah ingusan!”, kata-kata Zan langsung dipotong oleh Pah Saki.

Beberapa rombongan itu menggeledah seisi rumah. Penggeledahan yang brutal. Sidhanula menatap wajah Pah Saki. Matanya tajam menghunus. Ada kekuatan yang terbelenggu di pancaran mata Sidhanula. Tiba-tiba tubuh tua renta itu bangkit dengan cepatnya, merebut parang yang digenggam Pah Saki, dan menghujamkan parang itu ke selangkangan Pah Saki.

“Zan, Lari!”, perintah Sidhanula bersamaan dengan jeritan Pah Saki yang melolong menahan perih. Orang-orang itu segera mengeroyok Sidhanula. Tebasan kedua tepat mengenai leher Pah Saki sebelum para aparat itu menghujankan timah panas ke tubuh Sidhanula.

Zan yang sempat terdiam beberapa saat, hanya ingat pesan terakhir bapaknya. Lari, temukan adikmu. Segera ia meloncat lewat jendela yang ada di sampingnya. Namun sebutir peluru aparat menembus paha kirinya. Zan terjungkal dari jendela. Beberapa orang mengejarnya. Zan masuk ke ladang jagung dan terus berlari. Bapaknya telah mati, harus ia ceritakan semuanya pada Ruz.

Yang terasa di paha kirinya adalah dingin dan pedih. Bebatan kaus itu ia kencangkan kembali. Rombongan obor yang mengejarnya itu telah menjauh, dan hilang. Namun cahaya yang terang di ujung desa itu menyala terang di tengah-tengah matanya. Membakar semua kejadian yang terjadi sore tadi. Menyisakan rasa yang tak pernah didengar oleh kebenaran. Dari tempat yang agak tinggi di tengah hutan Pararanggi ini, zan terpaku. Dia menyandarkan lagi tubuhnya di bawah pohon pinus. Mengisak dan bertanya, “Dimanakah kau Ruz..?”

Dari arah belakangnya, derap segerombolan orang datang mendekat. Zan sudah pasrah, kalaulah para pengejar itu harus menemukan dirinya pada batas malam di tengah hutan Pararanggi ini, dia ikhlas.

Segerombolan bersenjata itu mengelilingi Zan. Seorang diantaranya membungkukkan tubuhnya, sampai dua muka itu bertemu tatap.

“Kak Nirzan…?”

“Ruznar…”

“Maaf harus meninggalkan kakak dan bapak, dan harus berakhir seperti ini. Siapapun yang menghalagi perjuangan kita harus mati kak, termasuk anak si penjilat itu..”

“Kita…”. Zan melihat wajah orang-orang yang mengelilinginya. Inikah para pemberontak yang menyebabkan bapaknya dituduh dan kehancuran keluarganya itu?, lirih hatinya.

“Kau tahu apa yang baru saja terjadi Ruz…”

Ruz terdiam sejenak. Ia berdiri. Mengalihkan pandangnya ke cahaya yang semakin meredup di ujung kampung itu. Zan, hanya melihat siluet adiknya dari sisa-sisa cahaya bulan yang akan tenggelam.

Malang, September 2007

0 komentar: