Tubuhku terkoyak, jadi serpihan, lebur kecil-kecil
Seperti kertas sobek-sobek lalu tertiup angin masuk Lumpur
Semuanya terasa mati
Semuanya sudah hilang
Harimau itu bermata galak,
Bertaring panjang dan berkuku tajam
Mendatangiku setiap hari
Entah ini sajak yang keberapa, yang jelas aku selalu membaca sajak-sajaknya. Dan aku selalu mengumpulkan sajak-sajak yang dibuatnya. Larik-larik kata indah, penuh gejolak dan rintihan. Dan entah mengapa aku sangat menikmati sajak-sajak yang dibuatnya. Aku juga tak pernah tahu mengapa aku, setiap hari, menungguinya diluar ruangan untuk menunggu angin menerbangkan sajaknya ke arahku. Terbang melewati jendela yang berterali besi. Setelah sajak itu terhempas ke arahku, aku selalu duduk di bangku ruang tunggu ruangannya sambil menghayati dan menyelami.
Sav, aku ingat kamu, ketika aku membaca-baca sajak-sajak perempuan itu. Kau dimana?, apakah kau sudah pulang?, atau kau masih menari di
Ketika perempuan itu selesai membuat sajak, tiba-tiba dia menatapku yang menatapnya dari jendela ini. Dia mendekap lembaran sajaknya, seperti takut. Sorot matanya makin lama makin melemah. Raut mukanya semakin ketakutan melihatku, seperti melihat setan.
“Harimau, Harimau…”, lirih-lirih dia mengulang-ulang kata itu, sambil tetap mendekap sajaknya. Matanya masih menyorotiku. Aku masih memperhatikannya. Aku ingin membaca sajaknya lagi hari ini. Tolong, berikan sajak itu, aku ingin membacanya, aku ingin mengingat Savitri, perempuanku dulu yang kini terbang ke langit setelah aku membuatnya “kotor” dan luka-luka. Bisikku dalam hati.
Tanganku ku julurkan melewati teralis jendela. Perempuan itu tampak menggelengkan kepalanya, dan semakin mendekap erat sajak yang baru dibuatnya. Tanganku masih menjulur dan tetahan di situ. Dia tak mau memberikan sajaknya, dan tanganku kutarik lagi. Dia sangat ketakutan.
“Bolehkah aku membaca sajakmu, hari ini saja, aku berjanji akan pergi dan tak akan membaca lagi sajak-sajakmu…” kataku. Dia menggeleng.
“Mengapa?, mengapa aku tidak boleh membaca sajakmu yang indah itu?, perempuan manis?” kataku lagi. Dia masih menggeleng.
“Tidak!, kau tidak boleh membaca sajak-sajak ku!, kau harimau jahat!, kau keji!” tiba-tiba saja dia menyalak seperti anjing. Aku sangat bingung dengan kata-katanya. Mengapa aku disebutnya harimau?.
“Aku bukan harimau?, aku adalah laki-laki yang selalu menunggu sajak-sajakmu, diluar sini. Sajak-sajakmu adalah sajak-sajak Savitri, perempuanku dulu, tapi kini sudah pergi, pergi ke langit!” kataku sambil menunjuk arah langit. “Kamu tahu Savitri?, tidak?, dia perempuan seperti kamu. Matanya indah, rambutnya terurai dan kulitnya putih. Hidungnya pun seperti kamu, telinganya, hidungnya, suaranya, seperti kamu. Makanya, aku ingin membaca sajak mu itu, bolehkah?”
Dia kembali menggeleng. Namun kini dia bangkit mendekatiku. Kini aku dan perempuan pembuat sajak itu sangat dekat, hanya dipisahkan teralis. Dia memang seperti Savitri. Sayang rambutnya kusam, seperti tak pernah dikeramas. Bibirnya pecah-pecah, pasti tak pernah makan buah jeruk. Dia linglung menatapku, dan matanya jarang berkedip. Dan, sajaknya masih didekap erat-erat.
“Kau bukan harimau?” katanya. Dan aku menggeleng.
“Kau mau membaca sajakku?” katanya lagi. Aku mengangguk senang sekali. Seperti anak kecil yang diberi permen.
Perempuan itu perlahan-lahan melonggarkan dekapan sajaknya. Aku tahu dia akan memberikan sajak itu padaku, aku senang sekali. Cepat, cepat, aku ingin membacanya, aku sudah tidak tahan lagi.
Lalu perempuan itu memberikan sajaknya dan aku menerimanya. “Kau bukan harimau
“Kembalikan sajakku.” Katanya lagi. “Tidak.” Kataku sambil tak melihat mukanya.
“Kembalikan!”. Dia menyalak. “Tidak” jawabku. Kali ini kulihat wajahnya yang menyala seperti tersulut api.
Lalu tangannya ingin merebut sajak yang ada ditanganku. Namun berhasil kuhindari. Tapi lantas dia menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke teralis.
“Kembalikan sajakku!, kau pembohong!, kau harimau!, kau penjahat!, kau harimau!” sambil terus membentur-benturkan kepalaku ke teralis jendela.
“Lepaskan!, aku bukan harimau!” aku mencoba berontak, namun jambakannya terlalu kuat, dia seperti kesetanan. Aku masih mempertahankan sajak itu, dan akan ku pertahankan sampai mati!.
Lalu beberapa orang, salah satunya adalah suster Riana, mencoba melepaskan pertikaian kami. Namun perempuan pembuat sajak itu masih belum mau melepaskan aku dan terus berteriak-teriak. Aku lihat teralis itu mulai basah oleh darah dari keningku. Dan teman-temanku yang ada di situ, yang sedang main kapal-kapalan di ember, yang lagi lompat-lompat, bermain lompat tali, yang sedang merenung, bernyanyi-nyanyi, semua tertawa cekikikan melihatku berdarah.
Akhirnya mereka berhasil memisahkan kami. Namun perempuan itu masih saja berteriak-teriak, “Harimau!, harimau!”, sambil ditenangkan oleh suster-suster. Sementara aku terkulai lemas dibawah jendela. Seragam putihku jadi merah karena darah. Namun aku sangat senang, sangat senang, sangat senang, bisa membaca sajaknya, sajak kemarahan Savitri kepadaku. Lalu aku membacanya :
Ooo sangkakala
Mengapa kau belum tertiup juga..
Aku sangat menunggumu sangkakala..
Karena aku ingin membunuhnya di
Di mahligai-mahligai abadi yang jauh
Di hari saat Aku membalas
Di hari saat setan tidak ada,
Aku ingin membunuh Harimau itu..

0 komentar:
Poskan Komentar