Jumat, 31 Agustus 2007

Wajah di Atas Bukit

Wajah di Atas Bukit

Rangkaian kejadian dari waktu ke waktu. Menembus batas ingat yang dulu pernah hilang. Malam ini angin tipis saja berhembus. Batas malam menyekat kehidupan. Raungan mimpi-mimpi menelusup masuk tanpa sadar. Sebentar lagi malaikat-malaikat itu beranjak ke langit. Cahaya rembulan pun akan padam di penghujung pagi nanti.

Dari atas sini kulihat wajah mungil kota. Di atas puncak bukit yang tidak terlalu tinggi, namun cukup untuk melihat kota itu seluruhnya. Wajah kota itu seperti bayi mungil sedang tertidur pulas malam ini. Tanpa dosa. Yang ada hanya senyap, sebenar-benarnya senyap. Bahasa diam berbicara kepadaku, “kota yang indah bukan?, lampu-lampu seperti lilin berjajar indah, dan kabut tipis menelungkupnya seperti hendak menyelimutinya dari bahaya..”. ku sedekapkan tanganku. Sesekali juga ku hisap rokok kretek ini, untuk sekedar menghangatkan badan. Dari atas sini, sungguh, kota itu sangat indah dan teduh.

Tanpa terasa, aku sudah seperempat abad tinggal di kota itu. Menjalani hari-hari ditemani kesibukan. Mengisi rutinitas waktu dengan mengajar di salah satu perguruan tinggi di sana. Perguruan tinggi yang dulu di kenal sebagai masternya pencetak guru. Sangking terkenalnya, bahkan setelah kini telah lama berganti nama pun, nama yang lama masih mulus kudengar dari orang-orang kota itu. Malahan kalau ditanya orang luar pulau tentang nama perguruan tinggi yang sekarang, orang kota itu sering tidak tahu atau salah menyangka. Maklum, perguruan tinggi dimana aku mengabdi sekarang pernah menjadi ikon kota itu.

Di kota itu pulalah aku menemukan hati ku. Yang sekarang telah menjadi separuh nyawaku. Wanita sederhana namun anggun tiada tara. Tak banyak menutut seperti wanita-wanita sekarang. Yang sekarang telah melahirkan para buah hati, sebagai penerus-penerus kami kelak. Dia adalah bidadari yang tak mungkin terganti oleh waktu.

Kembali kutatap kota itu dari atas bukit ini. Sendiri, karena dia dan anak-anak sedang tidur di tenda itu. Karena jam-jam begini puncak bukit ini pasti turun kabut. Dan kabut yang meluruh turun tak baik bagi kesehatan, terlebih dia dan anak-anak. Namun aku senang sendiri menatap kota itu pada situasi seperti ini. Seakan aku melihat gambaran manusia seutuhnya dari sini. Manusia-manusia yang penuh ambisi, yang mendedikasikan waktunya untuk mengejar keinginan. Seribu macam keinginan, sejuta macam ambisi. Dan kesemuanya tertumpah ruah di kota itu. Dari atas sini terlihat semua, mereka sedang tertidur dibuai mimpi-mimpinya.

Untuk aku selalu mewajibkan kami untuk sebulan sekali menikmati malam dari atas bukit ini. Meresapi alam untuk menemukan diri kita sendiri. Serta untuk mendekatkan kita kepada Pencipta dan semua citaanNya, termasuk wajah kota itu. Sebuah kebiasaan yang aku bangun dari mulai aku menjadi mahasiswa dulu. Naik gunung, dan melihat bisunya kota dari puncaknya. Namun kalau dulu bisa satu minggu sekali, kalau sekarang sebulan sekali saja. Atau kalau benar-benar tak ada waktu, ya dua bulan sekali. Aku, istriku dan dua buah hatiku pasti naik bukit ini untuk melepaskan semua kepenatan yang kami alami di kota. Karena aku sangat ngeri melihat tempat-tempat hiburan di kota yang disediakan zaman sekarang. Semuanya tidak punya nilai-nilai pendidikan. Semuanya merusak generasi ini. Aku tidak mau dua buah hatiku terserang pola pikirnya dan menjadi tipe manusia instant, ndak mau mikir, seperti kebanyakan generasi-generasi sekarang. Aku juga ingin anak-anak terlatih berfikir kritis dalam menanggapi persoalan-persoalan yang akan dihadapinya.

Kabut mulai meluruh turun ke bawah. Udara mulai tak sedingin tadi. Namun masih dapat kurasakan tipis embun menyapu bagian luar jaketku. Kota itu masih membisu dalam bahasa yang agung. Suara binatang malam diatas bukit ini menyarankanku untuk membuat perapian kecil untuk menghangatkan badan, sebentar lagi mereka akan bangun dan menikmati wajah kota itu bersamaku. Kukumpulkan ranting-ranting pohon kering, lalu hangat api mulai sedikit menepis dingin ini.

Dua putraku duduk berjajar di samping kanan dan kiriku. Sementara ibunya sedang merebus air untuk membuat mie instant dan minuman penghangat badan. Di perapian ini, kuajak anak-anak meresapi malam dan memandang heningnya kota itu. Kuceritakan indahnya kota itu dahulu. Keramahan penduduknya, keramahan pohon-pohonnya, serta kebanggaan-kebanggaan lain dari kota itu dulu. Mereka tampak antusias dan mendengarkan. Si kecil yang berusia 6 tahun pun bertanya, “Ayah, apakah dulu kota itu penuh bunga?”. Aku tersenyum tipis, lalu menjawab sederhana, “Ya, bunga-bunga warna-warni yang indah dan harum”. Kakaknya yang berusia dua tahun lebih tua menyela, “Lalu kemana bunga-bunga itu sekarang ayah?”. Aku diam sejenak. Memandangi bisunya kota itu untuk menemukan jawabannya. Sejujurnya aku tak seberapa yakin akan jawaban yang akan kuberikan untuk pertanyaan ini. Kedua mata anakku itu memandangiku seperti mengharap sekali aku segera menjawab. Seketika itu istriku datang membawa mie instant dan minuman, seraya memberi jawaban kepada mereka berdua, “Bunga-bunga itu sudah dibeli orang”, dan mengerling tipis kepadaku. Akupun membalas kerlingan itu dengan seyuman dalam hatiku.

Sementara malam semakin meluruh. Langit yang luas, cerah dan lapang, memperlihatkan bintang-bintang. Berjuta bintang-bintang. Berjuta cahaya keindahan. Rembulan memancarkan cahaya syahdunya. Kami berkumpul mengerubungi perapian. Tiada senikmat mie instant dan minuman panas yang disuguhkan istriku di puncak bukit ini. Kuajak mereka menatap kota itu. Kuajak mereka merasakan dan meresapi keindahan kota itu dalam-dalam.

“Ayah, rumah kita yang sebelah mana ya?”, Tanya sikecil memecah kebisuan.

“itu, yang sebelah situ, yang lampunya paling terang”, jawab kakaknya seraya menunjukkan jarinya kesatu titik.

“Bukan, bukan itu kakak, itu kan mall yang gede dan bayak lampunya?, rumah kita itu lampunya redup, nggak kelihatan dari sini..”, bantah sang adik memprotes.

“Itu, yang itu pasti, yang biru warna lampunya..”, sela sang kakak lagi.

“Eh, bukan juga kakak.., itu kan mall juga, yang baru dibangun itu lho..??”, protes sang adik lagi.

Aku dan istriku hanya membiarkan saja seraya tesenyum. Mereka anak-anak yang cerdas. Sementara lampu-lampu kota yang seperti lilin itu terus mengusik imajinasi mereka untuk menemukan rumahnya. Sengaja kami biarkan diskusi anak-anakku itu. Biar mengalir apa adanya sampai tiba waktunya kami ikut menengahi. Bagiku, ini pelajaran bagi mereka untuk selalu menghargai perbedaan. Biar mereka menemukan kebenaran secara alami dari diri mereka sendiri. Ini mengingatkanku pada masa kuliah dulu. Saat aku merasa bebas bicara apa saja, mengkritik apa saja. Aku masih ingat betul saat aku berdebat panjang perihal kebijakan kota yang mengijinkan pembangunan sentra bisnis di area-area hutan kota. Saat itu ada seorang mahasiswi yang tak setuju dengan pemikiranku. Dia sepakat bahwa kemajuan daerah harus diimbangi dengan pembangunan sentra-sentra bisnis pendukung. Karena hal itu merupakan sumber pemasukan daerah untuk mensubsidi kepentingan masyarakat. Tentu saja aku tak terima dengan pemikiranya. Karena bagaimanapun juga hutan kota adalah wilayah resapan hujan sebagai pengendali debit air untuk palang banjir. Namun debat itu tak berkesudahan. Dia tak mau mengalah. Dan hal itu yang menyebabkan aku jatuh cinta padanya. Kini dia menjadi ibunya anak-anakku.

Malam benar-benar meluruh. Pangkal subuh datang dengan sendirinya. Bintang-bintang perlahan-lahan mengundurkan diri. Sementara anak-anak tertidur dipangkuanku. Kota itu masih diam tak bicara. Aku dan istriku memandanginya dengan batin kami masing-masing. Mencoba mengurai makna dari setiap pertanyaan. Mencoba meresapi benar-benar wajah kota itu dipangkal subuh ini. Wajah itu, wajah itu seperti sedang terluka.

Malang, 2007

The Prosesism

...Tujuan bukan yang utama, yang utama adalah PROSES nya....
ku kutip sepenggal syair dari lagunya bang Iwan Fals. karena aku punya keyakinan, bahwa apa yang dilakukan manusia selama hidupnya, adalah sebuah proses yang abadi. walau, ku akui sendiri, untuk mentransendensi makna proses itu sangatlah rumit. kesadaran ku yang naif kadang-kadang terbang, kadang hilang, kadang kritis logis sistematis, kadang juga cuek ngauzubilah setan!. tapi sekali lagi aku sadar, itulah proses. yang meminta kesadaran diatas kesadaran. mengagumi skenario cerdas-Nya, dan tahu batasan sebagai umat-Nya.

untuk semunya yang sempat membaca, inilah catatan pertamaku yang kubuat pada fasilitas gratisan ini. dan perlu tahu juga, ini kali pertama aku buat Blog. setelah tadi beli buku panduan create blog di perpus umum kota malang. sampai tanggal 4 sep nanti, bazar buku murah menanti para bookbuck di tanah malang tercinta ini. tetap gali hikmah dibalik lautan buku yang berisi kata-kata entah, makna yang tak terbaca, dan saduran kalimat indah dari penulis terasing.

kita adalah seorang pelari, yang tak pernah tahu garis finish itu. kita hanya pengamat (observer), yang memperhatikan detail yang terlihat dalam pelarian itu. jangan berhenti berlari, jangan berhenti berproses. detail-detail itu akan memberikan jawaban.

-The Prosesisme-