Kamis, 25 Oktober 2007

DEMONSTRASI PARA TOKOH

Gila! sungguh-sungguh gila!, aku kepanikan ketika mereka beramai-ramai berdemonstrasi di luar pagar rumahku ketika aku lagi santai, menikmati segelas kopi Lampung dan sebatang lintingan tembakau Madura. Bangsat! Mau apa mereka kemari. Apa salahku sehingga aku di demonstrasi. Padahal aku bukan pejabat JPS yang menyelundupkan Raskin. Aku bukan jajaran jendral yang menghilangkan aktivis-aktivis pergerakan. Aku juga bukan anggota parlemen yang menandatangani tender fiktif. Aku hanyalah penulis, mengapa aku didemonstrasi. Kurang ajar! Apakah mereka kurang kerjaan, datang di luar pagar rumahku dengan sepanduk-sepanduk penentangan. Mau apa mereka, mau membakar rumahku?, atau mau membantaiku beramai-ramai?.

Seorang bertubuh gemuk berkemeja rapi dan berdasi maju kedepan, hampir memanjat pagar besi rumahku. “Pak! Bapak harus bertanggung jawab atas kami…!”

Yang lain juga menyerukan hal yang sama setelah yang depan itu berseru lantang terhadapku.

“Ya ! bapak harus bertanggung jawab terhadap kami! Bapak harus bertanggung jawab terhadap kami! Bapak harus bertanggung jawab….!”

Aku lari bersembunyi dibalik jendela. Tirainya kubuka sedikit.

“apa!, apa yang harus kupertanggung jawabkan terhadap kalian!, apakah aku pernah mencabuli anak kalian!” teriakku lantang bersembunyi.

“Lebih parah!, bapak telah mencabuli paksa kami semua!” teriak salah satu diantara mereka.

Bangsat! fitnah!, kapan aku pernah bergumul dengan mereka, bahkan kenalpun tidak. Mungkin mereka massa suruhan seseorang yang tertembak tulisan-tulisanku, pasti!

“Pak! Jangan bersembunyi seperti pengecut!, apakah bapak lupa dengan kejahatan bapak, apakah bapak lupa telah memperbudak kami tanpa membayar keringat kami seujung rambut pun! Apakah bapak lupa!. Bapak harus mempertanggung jawabkan semuanya!” kata orang yang hampir memanjat pagar rumahku.

“Ya! Bapak harus mempertanggung jawabkan semua kepada kami!” lanjut mereka yang ada di belakangnya.

“Apa! kpan aku pernah berbuat salah kepada kalian! kapan aku pernah memperbudak kalian! Kalian tahukan, bahwa aku hanyalah seorang penulis!” kataku sambil bersembunyi dibalik jendela yang tirainya ku buka sedikit.

Jarak jendela rumah depan dan pagar besi tempat mereka berdemonstrasi hanya sekitar 10 meter, namun suara-suara mereka terdengar jelas di daun telingaku. Memekakkan sekali, membuat aku ingin menutup telinga, tapi tidak bisa. Tiba-tiba salah seorang lagi maju mendampingi seorang yang tadi. Badannya kurus kering, mukanya serampangan, rambutnya mbladus, bajunya sobek-sobek, tangannya mengepal-ngepal ke arahku bersembunyi.

“Hai bapak bangsat! Lihatlah diriku! Ini akibat perbuatan bapak!”

Hah, perbuatanku, apa yang telah aku perbuat pada orang itu, bahkan kenalpun tidak. Kasihan juga melihat orang-orang itu. Baiklah, kalau aku pernah melakukan perbuatan kotor terhadap mereka, aku siap mati menebus kesalahanku. Aku keluar dari balik jendela, lalu mendekat perlahan ke kerumunan itu. Jujur saja, aku pun takut, takut sewaktu-waktu mereka jadi beringas. Seperti yang selama ini kuperhatikan di televisi, massa yang banyak dan termakan provokasi, nalarnya menjadi macet. Tak heran kalau mereka jadi anjing yang mencacah-cacah tulang. Dan kalau saja tulang itu adalah aku?, matilah aku.

“Oke, oke, tenang. Kita bisa berbicara baik-baik, kita bisa rundingkan semua ini dengan cara yang beradap, bukan cara yang biadap..” kataku sambil berjalan sangat pelan sembari memberikan isyarat tenang. Namun aku tetap was-was, sambil menatap muka-muka mereka yang bergemeretak gerahamnya.

Mereka semua agak tenang dengan kedatanganku. Tetapi tetap saja tatapan mereka sinis, seakan aku koruptor yang jatuh miskin dan mereka adalah korban-korban kebejatanku. Aku menghentikan langkah sekitar empat meter didepan mereka. Bagiku cukup dekat, mengingat kakiku yang gemetaran menahan takut.

“sebenarnya ada apa, sehingga kalian beramai-ramai mendatangiku seperti ini..” ucapku perlahan.

“Hah! bapak tak sadar ya! telah menjadikan kami seperti ini! sehingga kami menjadi mahluk bodoh di daratan bumi!” kata orang kurus tadi membentakku.

“Ya! Bapak telah menjadikan kami seperti ini! Bapak telah menjadikan kami seperti ini! Bapak telah menjadikan kami seperti ini…” sambung mereka semua yang berada di belakangnya sahut menyahut.

“Tenang! tenang semua…..!” kata orang yang bertubuh gemuk menenangkan mereka yang dibelakangnya. Semua menjadi tenang kembali.

Aku jadi takut lagi. Ingin rasanya lari masuk rumah, lalu mengunci pintu rapat-rapat dan menelpon polisi anti huru-hara. Tapi apa jadinya nanti, mengetahui bahwa seorang penulis lari seperti pengecut, seperti orang yang tak punya harga diri. padahal aku kan tidak bersalah?

“Oke, oke, apapun aspirasi kalian, tolong bicarakan dengan baik, dan tolong jangan mengedepankan emosi. Aku benar-benar tak tahu apa salahku….” Ucapku seraya memberi isyarat tenang kepada mereka.

“Kami minta keadilan pak! bapak telah memperlakukan kami semena-mena….!”

“Oke, oke, kita bicarakan didalam rumahku, aku minta perwakilan dari kalian, rumahku tak akan mungkin muat jika dimasuki kalian semua…”

“Aku saja!, aku saja!, aku saja!, aku saja…!” kata mereka semua berebut.

“Tenang! sekali lagi tenang! Kita semua memperjuangkan hal yang sama! Biar aku saja yang memperjuangkan hak kita semua..!” kata orang gemuk.

Mereka semua reda kembali. Orang gemuk sepertinya punya pengaruh terhadap mereka. Aku jadi curiga, jangan-jangan orang gemuk ini yang telah menggerakkan mereka hingga berdemonstrasi seperti ini.

“Aku perlu dua orang saja untuk berdialog. Tapi tolong, siapapun orangnya, harus bisa berfikir jernih serta mengedepankan rasio dari pada emosi..” ucapku lagi.

“Baik!, aku ikut kau orang gemuk….” Kata orang kurus seraya memegang pundak orang yang gemuk.

Pintu gerbang pagar besi perlahan ku buka. Was-was tetap bergemuruh di otakku. Takut mereka sewaktu-waktu berubah pikiran dan menyeretku keluar. Orang gemuk dan orang kurus masuk. Matanya tetap sinis terhadapku. Tingkahnya sok sekali, menantangku dengan bahasa tubuh nya yang membusung. Setelah mereka berdua masuk pagar, kututup lagi gerbang tadi lalu kuajak mereka masuk rumahku.

“Hidup orang gemuk! hidup orang kurus! perjuangkan nasib kita! bantai penulis! bantai penulis! bantai penulis……..” kata mereka yang ada diluar pagar.

Sementara orang kurus dan orang gemuk melempar senyum kecil kepada mereka yang berada diluar seraya mengepalkan tangannya dan membumbungkannya ke atas “Hidup orang fiktif!” ucapnya.

Kami bertiga masuk ke rumahku. Duduk di ruang tamu, yang ku khususkan untuk tamu. Orang gemuk dan orang kurus duduk di satu kursi sofa yang lebih panjang dari kursi sofa yang aku duduki. Posisi mereka berhadapan dengan ku. Sehingga tajamnya mata mereka berdua tertatap jelas olehku.

“Tunggu, aku kebelakang sebentar..” kataku sambil beranjak kebelakang.

Mata mereka terbelalak kearahku. Sinis sekali tatapannya, seakan aku mau kabur dari mereka.

“Tidak, tenang saja, aku tak akan kabur…”

Aku kedapur, membuatkan kopi untukku dan untuk mereka. Bagaimanapun mereka tamuku, harus ku hormati. Sementara sayup-sayup ku dengar diluar sana, “Bantai penulis! bantai penulis! bantai penulis…..”.

Aku kembali ke ruang tamu sambil membawa tiga gelas kopi. Satu untukku, satu untuk orang gemuk, dan satu untuk orang kurus.

“Silahkan diminum…”

Mereka saling bertatapan. Dan menatap curiga terhadapku.

“Tenanglah, aku jamin tak akan ada arsenik di dalam kopi itu..” kataku.

“kami tak percaya ucapanmu penulis!” bentak mereka serempak.

“Oke, akan kucicipi kopimu..” kataku seraya menyeruput kopi mereka satu persatu.

“Kalian sudah percaya…?”

“Ya, kali ini kami percaya…”

Mereka berdua meminum kopi yang ku buat.

“Apakah gerangan yang membuat kalian berdemonstrasi terhadapku..” kataku membuka permasalahan.

“Kau sungguh dzalim penulis..!” kata orang kurus membentak terhadapku. Tangannya mengacung tepat didepan mukaku.

“Apa yang mendasarimu mengatakan aku orang Dzalim, apakah aku pernah mendzalimimu?”

“Kau sungguh kurang ajar penulis!, semuanya yang terjadi padaku kini gara-gara ulahmu!, mengapa kau jadikan aku badut-badut peliharaanmu, yang dapat kau mainkan seenak batok kepalamu! Mengapa kau jadikan kami boneka yang harus selalu menuruti apa kata pikiranmu!” kata orang gendut.

“Kau tahu penulis, aku sangat menderita ketika kau jadikan aku seorang kaya yang sombong. Aku selalu di caci maki, tubuh gendutku ini mereka pikir hasil dari perbuatan kotorku, jas dan dasiku mereka pikir hasil dari uang korup. Terlebih lagi, kau jadikan aku yang tamak harta, yang pada akhirnya terkubur oleh uang-uang kertas yang bertumpuk. Kau juga menyuruhku untuk gila wanita, tak pernah memikirkan keluarga, penghianat, sampai jadi anjing penjilat penguasa. Apakah kau tidak merasa itu penulis?!” kata orang gendut melanjutkan lagi.

“Dan aku penulis, kau jadikan aku orang miskin yang sehari-harinya harus menelan pil pahit kehidupan. Ketika pagi belum menyingsih, kau suruh aku bangun untuk berjalan ke kota mengais rejeki di tong sampah. Ketika siang panas memanyungi, kau tak suruh aku beristirahat barang sejenak, karena ‘orang-orang yang beristirahat saat berjuang’ adalah orang yang pemalas katamu. Aku pun menurut saja. Namun ketika matahari tenggelam, hanya sepeser rupiah yang kudapat, itu saja hanya cukup buat beli nasi ‘kucing’, dua batang rokok, serta segelas air mineral. Kau sungguh biadap penulis!” kata orang kurus dengan intonasi tinggi.

“Bukan itu saja, tengoklah mereka diluar. Lihatlah Ranti, yang kau jadikan pelacur, dia selalu merintih kesakitan menahan kemaluannya yang nyeri!. Lihatlah Mat garong, yang seumur hidupnya tak tenang karena dikejar-kejar polisi karena kau jadikan perampok yang bengis!. Lihatlah Ilham, bocah kecil itu kini menanggung malu karena kau jadikan anak haram!. Dan Ummi, mengapa kau harus menjadikannya wanita salehah padahal dia lebih menikmati hidup bila menjadi wanita jalang?! ” tegas orang gendut.

“Dia, lihatlah dia!” orang kurus menambahi, seraya mendekati jendela dan membuka tirainya. Tangannya menunjuk ke kerumunan massa di luar.

“Itu! Yang tangannya buntung. Kau apakan dia penulis! Hingga tangannya buntung begitu, mengapa tidak sekalian saja kedua tangannya kau buntungkan. Dan itu! Yang matanya buta!. Benar-benar kelewatan kau penulis, kau butakan matanya, tapi kau suruh ia jadi dosen disebuah perguruan tinggi negeri. Apa kau tak kasihan melihat dia tiap hari dicaci maki mahasiswanya karena ia dosen buta?!. Lihat! Lihatlah perempuan anggun itu, mengapa kau jadikan ia perempuan anggun sedang kau menjadikannya tidak punya payu dara, sungguh bedebah!. Itu lagi, yang disana!, pria tampan bermata biru, mengapa kau harus memotong kemaluannya penulis?!, kejam!” kata orang kurus sambil menunduk lesu penuh amarah.

“O..o..o, jadi begitu maksud kedatangan kalian, O..o..o jadi itu alasan kalian demonstrasi di depan rumahku…” kataku sambil tersenyum menatap mereka berdua. Sepertinya rasa takutku benar-benar hilang kini. “Huh, mereka hanya bonekaku yang sedang bermain-main” bisikku dalam hati.

“Lantas…., apa mau kalian dariku…” ucapku lagi.

“Sudahkah cukup jelas penulis?, kami minta keadilan dari mu!, kami minta posisi yang semestinya!, kami minta hak-hak kami!, dan kami minta jaminan hidup yang layak!” orang gendut berbicara lantang.

“Aku kira, aku telah memenuhi semuanya, kalian saja yang tak pernah bersyukur..” jawabku ringan.

“Bohong! fiktif!, kau telah memasung hak bicara kami penulis! Kau telah merenggut ruang gerak kami penulis! Kau penguasa otoriter yang tak mendengar jeritan rakyat yang kau ciptakan!, kami punya kehidupan sendiri penulis! kami punya kehidupan!” sambil menggebrak meja, orang kurus angkat bicara.

“Dengan kata lain, kalian menuntutku karena aku semena-mena menjadikan diri kalian seperti keinginanku, begitu? Dan kalian menuntut untuk kuberi kebebasan, begitu? Kalian juga menginginkan aku memperhatikan kesejahteraan dan kelayakan hidup kalian, begitu?. Lalu, apakah dengan begitu kalian akan tetap hidup? Apakah kalian masih punya nyawa? Apakah kalian masih bisa bernapas? Apakah kalian masih berjalan sendiri tanpaku?”

“Dengar penulis, sekali lagi dengar, kami punya kehidupan sendiri. Campur tanganmu hanya mengakibatkan kecacatan pada tubuh kami, kami adalah kami, dan kau adalah kau. Kau bukan kami, dan kami tak akan pernah jadi kau!” kata orang gendut membentakku.

“Dan ingat penulis, jika kau tak kabulkan tuntutan kami, jangan salahkan kami kalau kami bertindak anarkis. Kau tidak maukan jasadmu jadi abu?” yang kurus menambahi.

Aku terdiam sejenak. Memperhatikan mimik muka mereka dengan tersenyum kecil. “bisa apa kalian terhadapku, aku yang menciptakan kalian….” ucapku dalam hati. “Ah, apa salahnya menyenangkan mereka sekali-kali..” bsikku lagi dalam hati.

“Oke, tuntutan kalian akan ku kabulkan. Aku berjanji tidak akan semena-mena lagi terhadap kalian, aku berjanji tidak akan memasung gerak kalian, akan mengembalikan hak bicara kalian, akan memperhatikan kelayakan hidup kalian…”.

Sekali lagi mereka saling menatap. Lalu berbalik menatap ke arahku. Sekali lagi mereka curiga, sangat curiga.

“Ku jamin aku tidak berbohong. Aku berjanji, jika aku berbohong, aku akan berhenti menjadi penulis.., bagaimana, masih tak percaya?” kataku menawarkan kepada mereka.

Mereka kembali saling pandang. Muka mereka yang tadi tampak garang, sekarang berubah. Ada titik cerah dan kepuasan pada rona muka mereka. Mereka saling berbisik, namun aku tak dapat mendengar bisikan mereka.

“Baiklah penulis, kami percaya kepadamu…” jawab orang gendut.

“Dan jangan lupa ucapanmu yang tadi penulis, perihal kau tidak akan menjadi penulis lagi jika kau melanggar janji. Jika kau lupa akan ucapanmu, akan kami kerahkan massa lebih besar untuk menurunkanmu dari kursi seorang penulis..” tambah orang kurus.

“Baiklah. Namun tidak adil rasanya jika hanya kalian saja yang menutut. Aku menjamin aku tak akan mengingkari omonganku, namun ada syaratnya..” ucapku menawarkan.

“Tidak penulis!, tidak ada syarat apapun untuk ini..” kata yang kurus menyela.

“Biarkanlah Dia bicara dulu orang kurus, kalau nanti syaratnya memberatkan kita, jangan di setujui…” sela orang gemuk bijaksana.

“baiklah, apa syaratnya…” tambah orang kurus lagi.

“Sebenarnya sederhana saja. Kalau aku tadi dituntut untuk merealisasikan apa mau kalian, sekarang aku minta kepada kalian untuk menghormati hak-hak diriku sebagai Penulis, simpel kan…”

mereka saling pandang, kemudian berbisik-bisik, lalu mengangguk bersama.

“Ya, kami setuju penulis..” kata mereka berdua serempak seraya berdiri sambil menyodorkan tangannya.

Aku pun berdiri. Menyalami mereka satu seraya memberi isyarat sepakat. Mereka berdua pun memberi isyarat kesepakatan.

“Baik penulis, kami akan sampaikan kesepakatan ini ke mereka yang lain. Semoga kesepakatan ini bisa kita pertanggung jawabkan bersama” tegas orang gendut.

“Baik, terima kasih…” balasku.

Mereka berdua bergegas meninggalkan ruang tamuku. Aku mengikuti mereka dari belakang. Setelah mereka keluar pintu, yang ada di luar pagar terdiam sejenak. Kemudian orang kurus dan orang gendut berseru, “Kita bebas! Kita bebas! Kita bebas…..!”. Dan mereka yang ada di luar pagar kembali bersorak beramai-ramai, “Hidup kebebasan! Hidup kebebasan! Hidup kebebasan…!”. Lalu mereka beranjak menjauh dari pagar rumahku.

Aku tersenyum sambil menatap mereka pergi. Aku kembali duduk di kursi teras, dan menikmati kopi Lampung serta lintingan tembakau Madura. Ternyata mereka bukan massa suruhan orang yang ‘tertembak’ tulisanku, mereka massa suruhanku sendiri.

Perempuan Pembuat Sajak

Hariku baru saja dimakan harimau

Tubuhku terkoyak, jadi serpihan, lebur kecil-kecil

Seperti kertas sobek-sobek lalu tertiup angin masuk Lumpur

Semuanya terasa mati

Semuanya sudah hilang

Harimau itu bermata galak,

Bertaring panjang dan berkuku tajam

Mendatangiku setiap hari

Entah ini sajak yang keberapa, yang jelas aku selalu membaca sajak-sajaknya. Dan aku selalu mengumpulkan sajak-sajak yang dibuatnya. Larik-larik kata indah, penuh gejolak dan rintihan. Dan entah mengapa aku sangat menikmati sajak-sajak yang dibuatnya. Aku juga tak pernah tahu mengapa aku, setiap hari, menungguinya diluar ruangan untuk menunggu angin menerbangkan sajaknya ke arahku. Terbang melewati jendela yang berterali besi. Setelah sajak itu terhempas ke arahku, aku selalu duduk di bangku ruang tunggu ruangannya sambil menghayati dan menyelami.

Sav, aku ingat kamu, ketika aku membaca-baca sajak-sajak perempuan itu. Kau dimana?, apakah kau sudah pulang?, atau kau masih menari di Sana?. Aku sekarang sendirian dan terkurung. Perempuan itu sungguh jahanam, mengapa membuat sajak yang mengingatkanku padamu. Perempuan itu sungguh laknat!. Kadang jika aku, jika napasku, jika darahku mendesir dan ingin meledak, aku remas-remas sajak itu, lalu ku buang. Dan ingin aku masuk ke ruangannya. Ingin sekali kubunuh perempuan pembuat sajak itu. Tapi ruangannya selalu terkunci. Dan ketika aku hendak mendobraknya, beberapa orang memegangiku. Aku pun tertahan, dan tak bisa berbuat lebih jauh. Esoknya, aku datang lagi karena ingin menikmati sajak yang dibuatnya hari itu. Selalu seperti itu.

Ketika perempuan itu selesai membuat sajak, tiba-tiba dia menatapku yang menatapnya dari jendela ini. Dia mendekap lembaran sajaknya, seperti takut. Sorot matanya makin lama makin melemah. Raut mukanya semakin ketakutan melihatku, seperti melihat setan.

“Harimau, Harimau…”, lirih-lirih dia mengulang-ulang kata itu, sambil tetap mendekap sajaknya. Matanya masih menyorotiku. Aku masih memperhatikannya. Aku ingin membaca sajaknya lagi hari ini. Tolong, berikan sajak itu, aku ingin membacanya, aku ingin mengingat Savitri, perempuanku dulu yang kini terbang ke langit setelah aku membuatnya “kotor” dan luka-luka. Bisikku dalam hati.

Tanganku ku julurkan melewati teralis jendela. Perempuan itu tampak menggelengkan kepalanya, dan semakin mendekap erat sajak yang baru dibuatnya. Tanganku masih menjulur dan tetahan di situ. Dia tak mau memberikan sajaknya, dan tanganku kutarik lagi. Dia sangat ketakutan.

“Bolehkah aku membaca sajakmu, hari ini saja, aku berjanji akan pergi dan tak akan membaca lagi sajak-sajakmu…” kataku. Dia menggeleng.

“Mengapa?, mengapa aku tidak boleh membaca sajakmu yang indah itu?, perempuan manis?” kataku lagi. Dia masih menggeleng.

“Tidak!, kau tidak boleh membaca sajak-sajak ku!, kau harimau jahat!, kau keji!” tiba-tiba saja dia menyalak seperti anjing. Aku sangat bingung dengan kata-katanya. Mengapa aku disebutnya harimau?.

“Aku bukan harimau?, aku adalah laki-laki yang selalu menunggu sajak-sajakmu, diluar sini. Sajak-sajakmu adalah sajak-sajak Savitri, perempuanku dulu, tapi kini sudah pergi, pergi ke langit!” kataku sambil menunjuk arah langit. “Kamu tahu Savitri?, tidak?, dia perempuan seperti kamu. Matanya indah, rambutnya terurai dan kulitnya putih. Hidungnya pun seperti kamu, telinganya, hidungnya, suaranya, seperti kamu. Makanya, aku ingin membaca sajak mu itu, bolehkah?”

Dia kembali menggeleng. Namun kini dia bangkit mendekatiku. Kini aku dan perempuan pembuat sajak itu sangat dekat, hanya dipisahkan teralis. Dia memang seperti Savitri. Sayang rambutnya kusam, seperti tak pernah dikeramas. Bibirnya pecah-pecah, pasti tak pernah makan buah jeruk. Dia linglung menatapku, dan matanya jarang berkedip. Dan, sajaknya masih didekap erat-erat.

“Kau bukan harimau?” katanya. Dan aku menggeleng.

“Kau mau membaca sajakku?” katanya lagi. Aku mengangguk senang sekali. Seperti anak kecil yang diberi permen.

Perempuan itu perlahan-lahan melonggarkan dekapan sajaknya. Aku tahu dia akan memberikan sajak itu padaku, aku senang sekali. Cepat, cepat, aku ingin membacanya, aku sudah tidak tahan lagi.

Lalu perempuan itu memberikan sajaknya dan aku menerimanya. “Kau bukan harimau kan?” tanyanya. Aku menggeleng sambil membaca sajaknya sambil tersenyum senang.

“Kembalikan sajakku.” Katanya lagi. “Tidak.” Kataku sambil tak melihat mukanya.

“Kembalikan!”. Dia menyalak. “Tidak” jawabku. Kali ini kulihat wajahnya yang menyala seperti tersulut api. Ada apa ini?, dia tiba-tiba berubah jadi beringas.

Lalu tangannya ingin merebut sajak yang ada ditanganku. Namun berhasil kuhindari. Tapi lantas dia menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke teralis.

“Kembalikan sajakku!, kau pembohong!, kau harimau!, kau penjahat!, kau harimau!” sambil terus membentur-benturkan kepalaku ke teralis jendela.

“Lepaskan!, aku bukan harimau!” aku mencoba berontak, namun jambakannya terlalu kuat, dia seperti kesetanan. Aku masih mempertahankan sajak itu, dan akan ku pertahankan sampai mati!.

Lalu beberapa orang, salah satunya adalah suster Riana, mencoba melepaskan pertikaian kami. Namun perempuan pembuat sajak itu masih belum mau melepaskan aku dan terus berteriak-teriak. Aku lihat teralis itu mulai basah oleh darah dari keningku. Dan teman-temanku yang ada di situ, yang sedang main kapal-kapalan di ember, yang lagi lompat-lompat, bermain lompat tali, yang sedang merenung, bernyanyi-nyanyi, semua tertawa cekikikan melihatku berdarah.

Akhirnya mereka berhasil memisahkan kami. Namun perempuan itu masih saja berteriak-teriak, “Harimau!, harimau!”, sambil ditenangkan oleh suster-suster. Sementara aku terkulai lemas dibawah jendela. Seragam putihku jadi merah karena darah. Namun aku sangat senang, sangat senang, sangat senang, bisa membaca sajaknya, sajak kemarahan Savitri kepadaku. Lalu aku membacanya :

Ooo sangkakala

Mengapa kau belum tertiup juga..

Aku sangat menunggumu sangkakala..

Karena aku ingin membunuhnya di Sana

Di mahligai-mahligai abadi yang jauh

Di hari saat Aku membalas

Di hari saat setan tidak ada,

Aku ingin membunuh Harimau itu..

Malang, April 2006

DI RUANG TUNGGU

Kamu, ya, kamu, yang sedang membaca ini. Sebentar lagi saya akan bercerita kepada kamu. Karena, dengan siapa lagi saya harus berkeluh kalau tidak sama kamu. Jangan marah ya, kalau saya paksa kamu mengikuti alur yang nanti saya berikan. Pandanglah saya sebagai temanmu, itu saja. Kamu pernah punya teman kan?, dan tahu kan hal apa yang paling dibutuhkan seorang teman?, tepat jawabanmu, Eksistensi atau pengakuan keberadaan dari mu. Tanpa itu, tali pertemanan tak akan ada. Dan, sebagai teman juga, saya tidak memaksa kok. Hanya…, minta kamu mendengarkan dan menganggap saya ada.

Saya, saat ini masih duduk di ruang tunggu. Menghisap sebatang rokok dan menyilangkan kaki. Mengepulkan asap yang saya sedot dan menggoyang-goyangkan telapak kaki yang saya silangkan. Kalau kamu bertanya pakai apa saya pada telapak kaki saya, baiklah saya jawab, saya pakai sandal jepit warna hijau. Kamu tahu sandal ini saya dapat darimana?, salah, bukan beli di warung. Hi..hi..hi.., saya malu. Ya sudahlah saya mengaku. Saya mengambil sandal ini saat orang-orang lagi shalat jum’at. Saat saya lewat, kok ada yang menarik perhatian saya di deretan sandal-sandal itu. Entah mengapa, sandal ini begitu menyita perhatian saya. Bersih, seperti baru. Tapi saya yakin, sandal ini baru disikat sama deterjen. Tapi jangan bilang-bilang ya. Kalau kamu bertemu dengan orang yang kehilangan sandal sehabis shalat jum’at, diam saja. Pura-pura tidak tahu saja. Atau…, jangan-jangan malah kamu yang punya sandal ini. Maaf, maaf. Lain kali jangan pakai sandal japit yang baru kamu cuci, pakai sandal yang agak kotor saja. Itu pesan saya.

Huh.., saya mengibas-ngibaskan kerah kemeja saya. Ruangan tunggu ini pengap. Ditambah lagi dengan asap rokok saya. Sepertinya oksigen di ruang ini kalah dengan karbon dioksida yang saya hasilkan. Padahal, di dinding depan saya ada larangan untuk tidak merokok. Namun begitu, saya tetap merokok. Karena, saya orang Indonesia. Karena juga, konon katanya, merokok dapat menghilangkan tekanan stress. Tapi, bisa menimbulkan tekanan darah tinggi dan serangan jantung serta gangguan kehamilan pada janin. Juga, konon katanya, dengan merokok berarti saya ikut sumbangsih sama perekonomian negara. Petani tembakau masih bisa menggarap lahannya, dan pekerja di pabrik rokok tidak di PHK. Tapi itu masih konon.

Pasti kamu bertanya, dengan siapa saya diruang tunggu ini, iya kan?. Benar, seperti tebakan yang terucap dalam hatimu, saya sendirian disini. Diruang tunggu pengap ini. Melamun dan depresi. Mengapa saya belum dipanggil-panggil juga?.

Untuk itu saya harus menunggu. Padahal sudah sejak tadi saya disini. Tapi saya harus menunggu. Dan kamu tahu?, hal yang paling dikhawatirkan oleh semua umat manusia termasuk kamu, ya tepat, adalah menunggu. Kalau saya boleh memilih, saya akan memilih mengkliping cerpen-cerpen yang ada di tukang kertas bekas ketimbang saya harus menunggu. Tapi saya tak punya pilihan lain. Karena menurut saya, menunggu memerlukan kekuatan yang luar biasa. Lebih besar daripada kekuatan yang diperlukan untuk menghukum pejabat-pejabat yang korup. Tapi kalau harus menunggu untuk menghukum pejabat-pejabat yang korup?, wah.., sungguh tak bisa dibayangkan, siapa yang punya kekuatan sedahsyat itu. saya mendingan memilih mati saja.

Di dinding depan saya, ada jendela. Jendela dari kaca yang bertirai. Sebenarnya kalau tirai itu tersingkap, saya bisa mengamati keadaan diluar sana. Tapi tirainya tertutup, dan saya merasa malas untuk membukanya. Dibawah jendela itu juga ada sederetan bangku seperti disisi depannya dimana saya sekarang duduk. Saya melihat koran-koran tercecer dibangku itu. Tapi, saya malas untuk meraihnya. Saya rasa beritanya, ya, tentang itu-itu juga. Nanti malah menambah parah kebosanan saya. Saya diam sajalah dan menunggu perkembangan. Wait for see saja. Saya ini kan wong cilik. Nrimo saja.

Kamu tahu, warna cat dinding-dinding di ruang ini?, biru muda?, bukan, tapi putih. Dan warna lantai keramik diruang ini juga putih. Warna bangku yang saya duduki juga putih. Hi..hi..hi..., celana dalam saya, putih juga. Jangan tertawa, gigimu kelihatan. Saya pesan, kalau kamu tertawa jangan sampai gigimu kelihatan. Saya takut, kalau-kalau kamu baru makan di warung masakan padang. Dan, ada pecahan cabai yang menempel di gigimu. Bayangkan, jika hal itu terjadi saat kamu mau berseranjang dengan istrimu, pasti gairah istrimu akan menurun. Gosok gigi ya, sebelum berseranjang.

Saya benar-benar kesepian diruang tunggu ini. Lama-lama saya tidak tahan juga. Tapi, orang sabar katanya disayang Tuhan. Dan saya ingin juga disayang Tuhan. Walaupun, sandal yang saya pakai adalah sandal yang saya curi ketika orangnya sedang menyembah Tuhan. Dan Tuhan acuh saja tuh, ketika sandal hambanya yang jelas-jelas sedang menyembahNya saya curi. Kamu jangan menyangka yang tidak-tidak ya. Tuhan itu penyayang umatNya. Kamu harus camkan itu baik-baik.

Kamu ingat kan jendela yang saya katakan tadi?, ya, jendela yang tirainya tersingkap tadi. Disampin jendela itu terdapat pajangan-pajangan gambar. Dari lukisan yang menggambarkan alam, poster-poster kesehatan, dan tanggalan.

Saya berdiri. Menggoyang-goyangkan pinggul saya yang mulai terasa pegal, lalu berjalan ke sisi depan saya itu, yang dindingnya ada gambar-gambarnya. Saya mendekati salah satu lukisan tentang alam pegunungan yang didominasi warna hijau. Menyedekapkan tangan, dan mulai mengamati. Lukisan yang indah. Saya yakin, pelukisnya adalah orang yang mendambakan kedamaian. Guratan-guratan cat nya sangat eksotis. Saya merasa damai memandangi lukisan itu. Aliran darah saya seperti berdesir-desir. Nyaman, dan tenang. Kalau kamu melihat lukisan ini seperti saat saya memandangi nya, kamu akan merasakan hal yang sama seperti saya. Saya yakin!. Karena kamu dan saya adalah sama-sama manusia. Dan, hal yang paling didambakan manusia pada hakikatnya adalah kedamaian, kenyamanan, dan ketenangan. Karena tanpa itu, saya atau kamu, pasti akan merasa gelisah. Saya mungkin kehilangan kata-kata bila disuruh mendefinisikan kegelisahan. Kamu bisa menjawabnya sendiri, dalam hatimu. Namun sekali lagi, lukisan itu begitu mengesankan. Siapa ya pelukisnya?, jangan-jangan kamu.

Sudah puas saya menikmati lukisan itu, saya menggeser langkah kesamping. Mencermati sebuah poster tentang bahaya HIV Aids. Warnanya dominasi merah dan hitam. Dan gambarnya adalah seseorang perempuan yang sedang meringkuk. Sebagian tubuhnya terselimuti kain hitam. Seperti kain latar pada pertunjukan teater. Mukanya tak kelihatan. Dibawahnya ada gambar tengkorak dan satu jarum suntik yang ujung jarumnya masih ada darahnya. Tiba-tiba saya merasa merinding. Saya membayangkan jika jarum itu menusuk pembuluh darah saya, dan tiba-tiba pembuluh saya robek. Kemudian darah mengucur dengan deras. Ah, rasanya tangan saya menggigil dan mendesir-desir. Dan dibawah poster itu ada kalimat-kalimat tentang bahaya HIV Aids, penggunaan jarum suntik, serta seks bebas. Pantas saja yang menjadi model di poster itu adalah wanita, bukannya pria. Dan untuk kamu, saya berpesan, gunakan kondom jika nggak tahan pengen ‘jajan’.

Saya membidikan mata ke sebuah pintu. Pintu yang dari tadi mungkin belum saya sebut-sebut. Padahal, pintu itu yang sebenarnya membuat saya menunggu. Karena jika saja pintu terbuka dari tadi, saya tidak akan mengajakmu bicara panjang lebar. Pintu itu terletak di ujung bangku yang saya duduki tadi. Pintu itu belum terbuka juga.

Akhirnya, eh belum, belum akhirnya, mungkin masih lama. Saya harap kamu belum bosan. Karena kalau kamu bosan, siapa yang akan mendengarkan cerita saya ini. Saya menggeser lagi langkah saya. Sekarang saya mengamati sebuah tanggalan. Pertama-tama saya seperti kamu juga, saya mengamati gambar yang ada di bagian atas tanggalan itu. Gambarnya seorang perempuan lagi. Tapi tidak berselimutkan kain latar seperti pada pertunjukkan teater pada poster disamping, perempuan itu hanya pakai bikini di sebuah pantai, Pasadena beach. Mudah-mudahan pikarnmu tidak ngeluyur kemana-mana seperti pikiranku saat ini. Kalau begitu, kamu sudah bisa menebak jenis kelaminku kan?. Sepertinya, wanita memang tidakdirkan jadi bahan eksploitasi yang paling yahut, mendatangkan uang. Beruntunglah kamu jadi kaum pria, He..he..he…

Saya lihat di tanggalan itu, sekarang sudah tahun 2006. Saya merasa sudah tua. Tapi jika saya mengingat-ingat anak-anak saya dirumah, rasanya saya harus memudakan diri lagi. Karena dengan begitu saya punya semangat untuk bekerja. Kamu tahu, pasti tidak. Anak-anak saya masih kecil-kecil. Saya punya empat anak. Bandel-bandel, tapi lucu. Yang paling besar masih duduk di bangku SMP kelas 1. yang paling kecil masih belajar merangkak. Saya takut, kalau-kalau saya tiba-tiba merasa tua dan pengen istirahat. Saya takut kalau anak-anak saya masa depannya suram. Saya tidak ingin anak-anak saya seperti saya. Karena itu, saya ingin giat bekerja dan saya selalu pasang target pada tahun 2010 atau 2015 nanti anak-anak saya sudah harus mandiri. Untuk itu mereka harus! Sekolah. Biar mereka terdidik. Kamu pasti merasakan kan?, kegundahan saya?. Kalau tidak, ya tak apa-apa lah.

Apakah kamu masih disitu?, masih mendengarkan saya diruang tunggu ini?. Saya harap, dan saya berharap, masih. Omongan saya panjang lebar ya?, kalau kamu ingin ngomong sekedar menyela atau memberi saya masukan, ngomong saja. Saya akan sangat senang jika kamu juga menyuarakan suaramu. Ini kan sudah jaman bebas, dan bicara apa saja kan sudah tidak ada yang melarang. Ngomong saja nggak usah ditahan. Baiklah, baiklah, mungkin kamu masih belum bisa bicara dengan saya. Kamu masih tertegun dan susah berkata-kata. Tak apa kok, wajar.

Huh.., pegal juga berdiri terus. Kakiku sepertinya minta istirahat. Saya bisa mendengarkan jeritannya. Kaki saya merintih-rintih. Ya, saya akan duduk. Saya melangkah mendekati bagku itu lagi. Sebelum saya sampai di bangku itu, pintu yang membuat saya menunggu, terbuka. Ha…!!, sepertinya saya ingit menjerit sejadi-jadinya. Tubuh saya mendesir-desir tak karuan. Senangnya bukan kepalang. Kamu juga pasti merasakan apa yang saya rasakan kan?!. Wah…, penungguan yang berusai, segar..!.

Seorang perempuan muda keluar buru-buru dari pintu itu. Dia menutup-nutupi wajahnya seperti malu-malu. Ah, yang seperti itu biasa bagi saya. Dokter kandungan yang ada didalam ruang yang pintunya tertutup tadi keluar. Saya melihat sarung tangan karetnya berlumuran darah. Dokter itu menyuruh saya masuk. Saya berpikir sejenak, pasti saya akan merasakan sakitnya menggugurkan kandungan untuk kedua kalinya. Tapi, demi anak-anak saya, saya harus melakukannya. Rasanya tersiksa jadi pekerja seks yang kebobolan.

Ok!, saya harus masuk. Saya berterima kasih sama kamu, karena telah merelakan telingamu mendengar keluh kesah saya diruang tunggu tadi. Lain kali kita bertemu lagi, dan jangan bosan ya. Dan, kamu pasti salah menebak jenis kelamin saya. he..he..he..